Jumat, 25 Maret 2011

Manajemen Dan Kepemimpinan Dalam Keperawatan

 Manajemen Dan Kepemimpinan Dalam Keperawatan


BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang
            Manajemen adalah ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien, efektif dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya
Manajemen di definisikan sebagai proses menyelesaikan pekerjaan melalui oranglain untuk  mencapai tujuan organisasi dalam suatu lingkungan yang berubah.
Manajemen juga merupakan proses pengumpulan dan mengorganisasi sumber-sumber dalam mencapai tujuan(melalui kerja oranglain) yang mencerminkam dinamika suatu organisasi
            Kepemimpinan adalah suatu seni dan proses untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang lain agar mereka memiliki moitvasi untuk mencapai tujuan yang hendak di capai dalam situasi tertentu
Organisasi merupakan tempat manusia berinteraksi yang mempunyai kemungkinan terjadinya suatu kofllik. Konflik daapt diartikan sebagai suatu bentuk perselisian antara “sikap bermusuhan” atau kelompok penentang ide-ide (Gillies, 1994).
            Perubahan adalah cara keperawatan mempertahankan diri sebagai profesi dan berperan aktif dalam meghadapi era millennium III.
            Pelayanan keperawatan mempunyai 2 pilihan utama yang berhubungan dengan perubahan, yaitu melakukan inovasi dan perubahan atau dirubah oleh suatu keadaan/situasi.
I.2 Tujuan
- Untuk Mengetahui tentang Manejemen Keperawatan
- Untuk Mengetahui  Tentang Kepemimpinan
- Untuk Mengetahui Tentang Organisasi, Perubahan, dan Pelayanan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Konsep Dasar Manajemen
    A. Ruang lingkup administrasi dan manajemen
  1. manajemen is getting things done through others
manajemen adalah ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien, efektif dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Manajemen mengandung tiga prinsip pokok yang menjadi ciri utama penerapaannya yaitu efisien dalam pemanfaatan sumber daya, efektif dalam memilih alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi, dan rasional dalm pengambilan keputusan.
Administrasi adalah ilmu atau seni yang mempelajari kerjasama sekelompok orang  dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Administrasi lebih menekankan kajiannya pada dinamika kerjasama orang-orang yang ada didalam sebuah organisasi untuk mencapai tujuan organisasinya.
B. Ruang lingkup manajemen.
  1. manajemen dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan organisasi Manajement By Objective (MBO). Sebuah organisasi yang ingin menerapkan konsep MBO harus selalu peka dengan rumusan tujuan organisasinya dan selalu mengembangkan pendekatan partisipatif untuk mencapai tujuan tersebut.

  1. manajement is how to work with others
dengan menggunakan pendekatan ini manajemen dapat dipelajari dari proses kerjasama yang berkembang antara pimpinan dengan stafnya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah diketahui sebelumnya.

  1. manajemen sebagai ilmu terapan
untuk menggerakkan roda administrasi, seorang manajer harus memiliki wawasan yang luas dan terus mengembangkan dirinya dengan mempelajari berbagai ilmu yanng terkait dengan tugas-tugasnya.
  1. manajemen adalah proses pemecahan masalah
proses manajemen dalam prakteknya dapat dikaji dan proses pemecahan masalah yang dikembangkan oleh semua unit kerja atau organisasi secara keseluruhan. Langkah praktisny terdiri dari identifikasi masalah, merumuskan langkah-langkah.
C. Fungsi-fungsi manajemen
  1. Perencanaan
a. langkah-langkah perencanaan
  • analisis situasi
  • mengidentifikasikan masalah
  • merumuskan tujuan
  • mengkaji kemungkinan adanya hambatan dan kendala dalam pelaksanaan program
  • menyusun rencana kerja operasional (RKO)
b. manfaat sebuah perencanaan
  • perencanaan organisasi dapat dilakukan secara teratur
  • mengurangi pekerjaan yang tidak produktif
  • alat pengukur hasil yang kegiatan yang dicapai
  • memberikan suatu landasan pokok fungsi manajemen lain
  1. Pengorganisasian
a. manfaat pengorganisasian
melalui fungsi pengorganisasian akan dapat diketahui
  • pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok
  • hubungan organisator antar orang-orang didalam organisasi tersebut melalui kegiatan yang dilakukannya
  • pendelegasian wewenang
  • pemanfaatan staf dan fasilitas fisik
b. langkah-langkah pengorganisasian
  • tujuan organisasi harus dipahami oleh staf
  • membagi habis pekerjaan dalam bentuk kegiatan pokok
  • menggolongkan kegiatan-kegiatan pokok kedalam satuan kegiatan yang praktis
  • menetapkan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh staf dan harus menyediakan fasilitas yang harus diperlukan
  • penugasan personil yang cakap
  • mendelegasikan wewenang
c. wewenang dalam organisasi
            wewenang adalah kekuasaan atau hak untuk memerintah atau meminta orang lain berbuat sesuatu. Wewenang seorang dalam sebuah organisasi dibatasi melalui uraian sesuai dengan fungsi dan kedudukan staf dalam sebuah organisasi.
Berdasarkan wewenang, akan dapat dibedakan tipe-tipe organisasi, antara lain:
  • wewenang lini (linie authority)
  • wewenang yang mengalir secara vertikal, yaitu wewenag yang mengalir dari atas kebawah
  • wewenang staf ( staf authority)
  • wewenang yang mengalir kesamping, yaitu wewenang yang diberikan kepada staf untuk membantu melancarkan tugas.
  • Wewenang staf dan lini
d. Pengembangan Organisasi
            pengenbangan organisasi adalah upaya pihak manajer untuk mengembangkan stafnya dengan harapan untuk lebih meningkatkan kapasitas organisasi dapat dilakukan melalui pengefektifan gaya kepemimpinan manajer, hubungan yang harmonis antara pimpinan dengan stafnya, meningkatkan kepuasan kerja staf dan semangat kelompok, kejelasan penyusunan tujuan dan perbaikan system perencanaan dan pelaporan.
  1. penggerakan dan pelaksanaan (Aktuasi)
  1. Tujuan fungsi, aktuasi
    • Menciptakan kerjasama yang efisien
    • Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan staf
    • Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan
    • Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang dapat mengingkatkan motivasi dan prestasi kerja staf
    • Membuat organisasi berkembang lebih dinamis
  2. Faktor-faktor penghambat aktuasi
Kegagalan manajer menumbuhkan motivasi stafnya merupakan hambatan utama fungsi aktuasi. Hal ini dapat terjadi karena manajer kurang memahami hakekat perilaku dan hubungn antar manusia.
  1. Pengawasan dan pengendalian (Wasdal)
  1. Prinsip pengawasan
    • Pengawasan yang dilakukan harus dimengerti oleh staf dan hasilnya mudah diukur.
    • Fungsi pengawasan merupakan kegiatan yang amat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi
    • Standar unjuk kerja yang akan diawasi perlu dijelaskan kepada semua staf.
  2. Manfaat pengawasan
§         Dapat diketahui apakah suatu kegiatan telah dilaksanakann sesuai dengan standar atau rencana kerja dengan menggunakan sumber dayaa yang telah ditetapkan.
§         Dapat diketahui adanya penyimpangan pada pengetahuan dan pengertian staf dalam melaksanakan tugas-tugasnya
§         Dapat diketahui apakh waktu dan sumber daya lainnya telah mencukupi kebutuhan dan telah digunakan secara benar
§         Dapat diketahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan
§         Dapat diketahui staf yang perlu diberikan penghargaan atau bentuk promosi dan latihan lanjutan
  1. Proses pengawasan
Ada tiga hal penting untuk melakukan pengawasann manajerial.
§         Mengukur hasil yang telah dicapai
§         Menbandingkan hasil yang telah dicapai dengan tolok ukur atau standar yang telah ditetapkan sebelumnya
§         Memperbaiki penyimpangan yang dijumpai berdasarkan faktor-faktor penyebab terjadinya penyimpangan.
  1. objek pengawasan
§         kualitas dan kuantitas barang atau jasa yang bersifat fisik
§         keuangan
§         pelaksanaan program dilapangan sesuai dengan RKO
§         hal-hal yang sifatnya strategis
§         pelaksanaan kerjasama
  1. cara mendapatkan data untuk melakukan pengawasan
ada tiga cara untuk mendapatkan data yaitu:
    • pengamatan langsung
    • laporan lisan dan
    • laporan tertulis

2.2 Konsep Manajemen Keperawatan
Manajemen didefinisikan sebagai proses menyelesaikan pekerjaan melalui oranglain untuk  mencapai tujuan organisasi dalam suatu lingkungan yang berubah.
Majemen juga merupakan proses pengumpulan dan mengorganisasi sumber-sumber dalam mencapai tujuan(melalui kerja oranglain) yang mencerminkam dinamika suatu organisasi
A.Pengantar Manajemen Keperawatan
Manajemen keparawatan secara singkat diartikan sebagai proses pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui upaya stap keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan,dan rasa aman kepada pasien/keluarga serta masyarakat(Gallies,1985)
Pada umumnya suatu sistem dicirikan oleh lima elemen yaitu
·        Input
·        Proses
·        Output
·        Kontrol
·        Mekanisme umpan balik
1.Input                                                                  
        Dalam proses manajemen keperawatan input berupa informasi,personel,peralatan dan fasilitas.
2. Proses
Pada umumnya merupakan kelompok manajer dan tingkat pengelolah keperawatan tertinggi sampai keperawatan pelaksana yang mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian,pengarahan dan pengawasan dalam pelaksaan pelayanan keperawatan

3. Output/keluaran
Umumnya dilihat dari hasil atau kualitas pemberihan asuhan keperawatan dan pengembangan staf,  serta kegiatan penelitian untuk menindaklanjuti hasil/keluaran.
4. Kontrol
Dalam proses manajemen keperawatan dapat dilakukan melalui penyusunan anggaran yang proposional, evaluasi penampilan kerja perawat,pembuatan prosedur yang sesuai standar akreditasi.
5.Mekanisme Umpan balik
Mekamisme Umpan balik dapat diakukan melalui laporan keuangan,audit keperawatan,dan surpei kendali mutu,serta penampilan kerja perawat
B. Prinsip Dasar Manajemen Keperawatan
Beberapa prinsip dasar manajemen keperawatan:
·        Manajemen keperawatan berlandaskan perencanaan, perencanaan merupakan hal yang utama dan serangkaian fungsi dari aktivitas manajemen.
·        Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif
·        Manajemen Keperawatan melibatkan pengambilan keputusan
·        Menejemen keperawatan harus terorganisasi
·        Menejemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif
·        Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan
C.Kerangka Konsep,filosofi,dan tujuan pelayanan Keperawatan
·        Kerangka Konsep Dasar Manajemen Keperawatan
Kerangka konsep dasar manajemen keperawatan adalah manajemen partisisfasi yang berlandaskan pada paradigma keperawatan yang terdiri atas manusia,perawat/keperawatan,kesehatan,dan lingkungan.
D.Manajemen Keperawatan di Masa Datang
                Sistem pelayanan kesehatan yang terjadi sebelum tahun 1990 sangat di pengaruhi oleh perkembangan ekonomi dan perluasan teknologi yang bersifat kompetitif karena pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan yang di berikan kepada pasien bersifat kuratif dan orientasinya berdasarkan perkembangan penyakit.
Pada abad ke-21,sistam pelayanan kesehatan berorientasi pada aspek kesehatan karena pelyanan yang di berikan lebih bersifat multidimensi dengan mempertimbangkan keberadaan masyarakat melalui penggunaan teknik pelayanan kesehatan yang tertinggi.

E.Starategi Pelaksanaan Manajemen Keperawatan di Masa Mendatang
                Mempertimbangkan perkembangan dan perubahan situasi yang berkaitan dengan kegiatan keperawatan di masa mendatang,manajer keperawatan di ruangan akan berpotensi menghadapi beberapan permasalahan.
                Manajemen partisipatif di laksanakan berdasarkan filosofi kepercayaan antar pihak yang terlibat dalam manajemen.
Manajemen partisifatip di lakukan juga berdasarkan  kerangka kerja praktik profesional yang menghargai kebebasan,mempertahankan dukungan,harapan yang jelas,sumber daya yang memandai,dan situasi organisasi yang terbuka untuk menciptakan hubungan

2.3 Kepemimpinan Dalam Manajemen
A. Pengertian Kepemimpinan
            Kepemimpinan berdasarkan kata kerjanya yaitu to lead, yang mempunyai arti beragam, seperti untuk memadu (to guide), untuk menjalankan arah tertentu , untuk menggerakkan berjalan kedepan, menjadi yang pertama, membuka permainan dan cendenung ke hasil yang pasti.
            Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu seni dan proses untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang lain agar mereka memiliki moitvasi untuk mencapai tujuan yang hendak di capai dalam situasi tertentu


B. Kegiatan Kepemimpinan
            Kegiatan kepemimpinan dalam keperawatan mencakup banyak hal. Kegiatan tersebut mencakup cara mengarahkan, menunjukkan jalan, menyupervisi, mengawasi tindakan anak buah, mengordinasikan hasil yang sedang atau yang di lakukan dan mempersatukan usaha dan berbagai individu yang memiliki karekterisik yang berbeda.
C. Gaya Kepemimpinan
            Secara mendasar kepemimpinan di bedakan menjadi tiga yaitu ,otoratik,demokratif,atau partisipasi dan free rain(delegative)
Gaya kepemimpinan   otoratik  merupakan gaya kepemimpinan utama yang beroriontasi pada tugas dengan menggunakan jabatan dan kekuatan pribadinya untuk mencapai tujuan.
Gaya kepemimpinan demokratis biasanya melibatkan kelompok dalam pengadilan ,keputusan dan memberikan tanggung jawab pada para karyawan.
Gaya kepemimpinan terakhir adalah kepemimpinan laize fair atau free rain.
D. Model Kepemimpinan
            Terrdapat 3 model kepemimpinan yaitu model Ohio State, kepemimpinan situasional, dan mannagerial Grids (Lamonica; 1986)
1. Model Ohio State
            Model di kembangkan pertama kali oleh anggota Staf dan Ohio State Leadership Studies (Lamonnica 1986). Model ini mengandun 2 komponen yaiti :
1. Struktur prakarsa
            Mengganbarkan pemimpin untuk melakukan pengorganisasia dan mendevinisikan kegiatan para anggota kelompok beserta peran yang di kembannya.
2. pertimbangan
            Sebagai komponen kedua dalam model ini, melibatkan komunikasi 2 arah untuk menjawab keputusan keompok melalui menanyakan pendapat. Keyakinan dan keinginan.


2. Kepemimpinan Situasional
            Teori ini di lakukan oleh Hersey dan Blanchard (1977) yang merupakan pengembangan dan model Ohio State.
            Berdasarkam model ini akan muncul 4 karekteristik prilaku kepemimpinan yaitu a. hubungan tinggi tugas rendah
b. tugas rendah hubungn rendah
c. tugas tinggi hubungan tinggi
d. dan hubungan tinggi tuga rendah.
3. Manegerial Grid
            Model kepemimpinan ini dikembangkan olh blake dan mounton (1978) yang pada tahun 1981 dengan taper mencoba model ini dalam keperawatan. Secara garis besar, model ini terbagi dalam beberapa kisi2 yang terdiri atas 5 gaya kepemimpinan yang di dasarkan pada suatu kombinasi kepeulian terhadp produksi/ 7 an institusi dan kepedulian terhadap orang, prilaku kepemimpinan terbagi atas 5 macam : Kepemimpinan otoritas kepatuhan, Kepemimpinan tim, Kepemimpinan kontryclub, Kepemimpinan iskin dan kepemimpinan Organisasi.
5.      Kepemimpinan Efektif
            Berbagai macam karekteristak prilaku kepemimpinan berdasarkan model kepemimpinan diatas dala implmentasinya di pengaruhi faktos situasi yang kerap di sebut dengan tingkat kedewasan. Faktor-faktor tersebut kdi kelompokkan 4 katagori yaitu
- Kedewasaan tngggi rendah yang di tanndai dg tidak mampu dan tidak mau
- Tingkat rendah sedang yang dicirikan dengan tidak mampu tetapi mau
- Tingkat sedang tinggi dengan ciri2 mampu tetapi tidak mau
- Kedewasaan tingkat tinggi dengan ciri2 mampu dan mau
2.4 Manajemen Konflik
Organisasi merupakan tempat manusia berinteraksi yang mempunyai kemungkinan terjadinya suatu kofllik. Konflik daapt diartikan sebagai suatu bentuk perselisian antara “sikap bermusuhan” atau kelompok penentang ide-ide (Gillies, 1994).
Dahulu konflik dianggap sebagai sesuatu yang  “berbau”  negative sehingga cara mengelolahnya pun bermula dan yang sederhana, seperti dan membiarkan saja sampai yang bersifat ekstrem, yaitu berusaha menghilangkan sampai ke  “akar-akarnya” ( Gilles, 1994 ).
Konflik adalah sebuah kemutlakan atau keharusan sehingga seseorang pemimpin harus belajar secara efektif dalam memfasilitasi penyelesaian konflik ysng terjsdi di antara anggotanya.
A.     Pengertian konflik
Deutsch (1969) dalam La Monika (1986), Mendefinisikan konflik sebagai suatu perselisihan atau perjuangan yang timbul akibat trejadinya ancaman keseimbangan antara perasaan, pikiran, hasrat, dan perilaku seseorang . Douglass dan Bevis (1979) mengartikan konflik sebagai suatu bentuk perjuangan diantara kekuatan interdependen.
Dan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Deutsch konflik terjadi akibat adanya pertentangan pada situasi keseimbangan yang terjadi pada diri individu ataupun pada tatanan yang lebih luas, seperti, antara individu, antar kelompok, atau bahkan antar masyarakat.
B.     Penyebab Konflik
Banyak faktor  yang bertanggung jawab terhadap terjadinya konflik terutama dalam suatu organisasi.  Faktor-faktor tersebut dapat berupa  perilaku yang menentang, stress, kondisi ruangan, kewenagan dokter perawat, keyakinan, eksklusifisme, kekaburan tugas, kekurangan sumber daya, proses perubahan imbalan, dan masalah komunikasih. Terdapat tiga macam perilaku menentang, yaitu competitive bomber yang dicirikan dengan perilaku mudah menolak, menggerutudan menggumam, mudah untuk tidak masuk kerja, dan merusak secara agresif yang disengaja. Tipe perilaku menentang kedua adalah Martyred Acomodation, yang ditunjukkan dengan penggunaan kepatuha semua atau palsu dan kemampuan bekerja sama dengan orang lain, namun smbil melakukan ejekan dan hinaan. Tipe perilaku yang menentang ke tiga adalah Avoider, yang ditunjukkkan dengan penghindaran kesepakatan yang telah dibuat dan menolak untuk berpartisipasi.  Stres juga dapat mengakibatkan terjadinya konflik dalam suatu organisasi. Kewenangan Dokter perawat yang berlebihan dan tidak saling mengindalikan usulan-usulan diantara mereka, juga dapat mengakibatkan munculnya konflik.
Penyebab lain terjadinya konflik dapat diakibatkan oleh adanya perbedaan nilai atau keyakinan antara satu orang dengan orang  lain. Peran ganda yang disandang seseorang perawat dalam bangsal keperawatan seringkali mengakibatkan konflik. kekurangan sumber daya insani dalam tatana organisasi dapat dianggap sumber absolute terjadinya konflik. Beberapa ahli berpendapat bahwa imbalan kadang tidak cukup berpengaruh dengan motivasi seseorang.
Faktor terakhir yang ikut adil dalm memunculkan suatu konflik adalah komunikasi
C.     Proses konflik
La Monica (1986) mengutif pendapatnya Filley (1980) membagi proses konflik dalam 6 tahapan, yaitu kondisi yang mendahului, konflik yang dipersepsi, konflik yang dirasakan, perilaku yang dinyatakan, penyelesaian atau penekanan konflik, dan penyelesain akibata konflik. Kondisi yang mendahului merupakan penyebab terjadinya konflik seperti yang sudah didiskusikan sebelumnya. Tahap terakhir dari proses konflik adalah upaya penyelesaian akibat dari konflik.
D.    Penyelesaian Konflik
Beberapa strategi dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik, seperti penggunaan disiplin, pertimbangan tahap kehidupan, komunikasi, lingkaran kualitas, dan latihan kearsetifan.
1.      Penggunaan Disiplin
Dalam menggunakan disiplin untuk mengelola atau mencegah terjadinya konflik, seorang manajer perawat mengetahui dan memahami peraturan dan ketetapan organisasi yang berlaku.    
2.      Pertimbangan Tahap Kehidupan
Konflik juga dapat disesaikan melalui pemberian dukungan pada anggota untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam tahap perkembangan kehidupan. Ada tiga tahap perkembangan, Yaitu Tahap dewasa muda, Setengah baya, dan setelah umur 55 tahun. Masing- masing tahap perkembang tersebut memiliki karakter yang berbeda. 
3.      Komunikasi
Komunikasih yang merupakan bagian mendasar manusia dapat dimanfaatkan dalam penyelesaian konflik, Komunikasi merupakan suatu seni yang penting digunakan untuk memelihara suatu lingkungan kondusif-terapeutik.        
4.      Lingkaran Kualitas
Cara lain yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya konflik adalah lingkaran kualitas. Lingkaran kualitas ini dapat digunakan melalui kegiatan manajemen pertisipasi, keanggotaan dalam panitia, program pengembangan kepemimpinan, latihan-latihan kelas, penjejangan karier, perluasan kerja, dan rotasi kerja.
5.      Latihan Kearsetifan
Seorang manajer dapat juga melatihi setafnya dalam hal keasertifan untuk mencegah atau mengelola konflik
E. Strategi dan Keterampilan Manajemen Konflik
Beberapa stategi dapat dipakai untuk menyelesaikan terjadinya konflik.  Strategi tersebut adalah Menghindar, akomodasi, kompetisi, kompromi dan kerjasama.
Bentuk keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk mengelola konflik pada umumnya berupa kegiatan pencegahan. Keterampilan tersebut berkisar pada kegiatan tersebut.
Ø      Membuat aturan atau pedoman yang jelas dan harus diketahui oleh semua pihak
Ø      Menciptakan suasana yang mendukung dengan banyak pilihan.
Ø      Mengungkapkan bahwa mereka dihargai. Pujian dan penegasan tentang nilai-nilai adalah penting untuk setiap orang dalam bekerja
Ø      Menekankan pemecahan masalali secara damai, dan mwmbngun suatu jembatan pengertian
Ø      Menghadapi konflik dengan tenag dan memberikan pendidkan tentang perilaku
Ø      Memainkan peran yang tidak menimbulkan sters dan konflik
Ø      Mempertimbangkan waktu terbaik untuk semuanya, dan jangan menunda waktu yang tidak menentu
Ø      Memfokuskan pada masalah dan bukan pada kepribadian
Ø      Mempertahankan komunikasi dan arah
Ø      Menekankan pada kesamaan kepentingan
Ø      Menghindari penolakan berlebihan
Ø      Mengetahui hambatan untuk kerjasama
Ø      Membedakan perilaku yang menentang dengan perilaku normal dalam kesalahan kerja
Ø      Menguatkan dalam menghadapi orang yang marah
Ø      Menetapkan siapa yang memiliki  masalah
Ø      Menetapkan kebutuhan yang terlalaikan
Ø      Membangun kepercayaan dengan mendengarkan dan mengklarifikasi
Ø      Merundingkan kembali prosedur pemecahan masalah
2.5 PERUBAHAN DALAM MANAJEMEN
A.                 Konsep Dasar Perubahan
            Perubahan adalah cara keperawatan mempertahankan diri sebagai profesi dan berperan aktif dalam meghadapi era millennium III.
            Pelayanan keperawatan mempunyai 2 pilihan utama yang berhubungan dengan perubahan, yaitu melakukan inovasi dan perubahan atau dirubah oleh suatu keadaan/situasi.

            Perawat mempunyai keterampilan dalam proses perubahan, yaitu :
  1. Proses keperawatan → pendekatan dalam penyelesaian masalah yang sistematis dan konsisten dengan perencanaan perubahan
  2. Perawat mempunyai ilmu pengetahuan dan pengalaman praktek untuk bekerja secara efektif dengan orang lain.
Keperawatan dapat di lihat dari berbagai aspek, antara lain; Keperawatan sebagai bentuk asuhan professional kepada masyarakat, keperawatan sebagai IPTEK, serta keperawatansebagai kelompok masyarakat ilmuwwan dan kelompok masyarakat professional.
4 hal yang di prediksi yang akan terjadi dan harus di antisipasi oleh profesi keperawatan, yaitu :
1.   Masyarakat berkembang → masyarakat akan lebih berpedidikan, lebih sadar akan hak dan hukum, menuntut berbagai bentuk pelayanan keperawatan , kehidupan ekonomi makin meningkat
2.   Rentang masalah kesehatan melebar → system pemberian pelayanan keperawatan yang meluas dari teknologi sederhana sampai teknologi yang canggih
3    IPTEK → terus berkembang harus di manfaatkan dengan tepat guna
4    Tuntutan  profesi tterus meningkat → didorong oleh perkembangan IPTEK medis, permasalahan internal pada profesi keperawatan dan era millennium III.
B. Jenis Dan Proses Perubahan
            Perubahan terencana adalah proses dimana adanya pendapat baru yang di kembangkan, dikomunikasikan kepada semua orang walaupun akhirnya akan di terima atau di tolak. Perubahan terencana dalam proses keperawatan memerlukan pemikiran yang matang tentang keterlibatan individu atau kelompok, penyelesaian masalah, pengambilan keputusan, pegkajian dan efektifitas pengguna keterampilan interpersonal termasuk komuikasi, kolaborasi.


C. Teori – Teori perubahan
I. Teori Kurt Lewin (1951)
         3  Tahapan Perubahan
         a.   Unfreezing (pencairan)
               1)   Motivasi yang kuat untuk beranjak dari keadaan semula
               2)   Merasa perlu untuk berubah dan berupaya untuk berubah,
               3)   Menyiapkan diri untuk berubah atau melakukan perubahan.
         b.   Movung (bergerak)
               1)   Bergerak menuju keadaan yang baru
               2)   Memahami masalah yang di hadapi dan mengetahui lankah penyelesaian yang  harus dilakukan
               3)   Melakukan langkah nyata untuk berubah dalam mencapai tingkat / tahap baru.
         c.   Refreezing (pembekuan)
               Telah mencapai tingkat / tahap yang baru 
            Menurut Lewin, perubahan terjadi apabila ada satu kekuatan yang mendorong. Factor pendorong terjadinya perubahan :
a.       Kebutuhan dasar manusia (5 kebutuhan meurut Hirarki Maslow)
b.      Kebutuhan dasar interpersonal (3 kebutuhan)
1)      Kebutuhan untuk berkumpul bersama-sama
2)      Kebutuhan untuk mengendalikan
3)      Kebutuhan untuh di kasihi, kedekatan dan perasaan emosional.
Faktor Penghambat :
a.       Mengancam kepentingan pribadi
b.      Persepsi yang kurang tepat
c.       Sebagai reaksi psikologis
d.      Toleransi untuk berubah rendah
Alasan Perubahan
a.       Perubahan ditujukan untuk menyelesaikan masalah
b.      Perubahan ditujukan untuk membuat prosedur kerja isbih efisien
c.       Perubahan di tujukan untuk mengurangi pekerjaan yang tidak penting
2. Teori Roger (1592)
         5 Tahapan Perubahan
         a.   Awareness (Kesadaran)
         b.   Interest (tertarik/keinginan)
         c.   Evaluasi
         d.   Trial (mencoba)
         e.   Aseptance (penerimaan)
3. Teori Lippits (1962)
         7 Tahapan dalam proses perubahan
         a.   Menentukan masalah
         b.   Mengkaji motivasi dan kapasitas perubahan
         c.   Mengkkaji motivasi change agent dan sarana yang tersedia
         d.   Menetapkan tujuan paerubahan
         e.   Menetapkan peran yang sesuai dilaksanakan oleh change agent
         f.    Mempertahankan perubahan yang telah dimulai
         g.   mengakhiri bantuan
Perbandingan perubahan dari ketiga katagori
LEWIN
ROGER
LIPPIT
Pencairan
Kesadaran
Menentukan masalah

Tertarik
Mengkaji motivasi, kemampuan berubah.

Evaluasi
Mengkaji motivasi change agent dan sarana
Bergerak
Mencoba
Menetapkan Tujuan perubahan


Menetapkan peran change agent
Pembekuan
Penermaan
Mempertahankan perubahan


Mengahiri bantuan


D. Strategi Membuat Perubahan
         Strategi membuat perubahan dapat di kelompokkan menjadi 3 hal
1.            Memiliki visi yang jelas
Visi harus disusun secara jelas, ringkas, mudah di pahamidan dapat dilaksanakan oleh setiap orang
2              Menciptakan iklim/budaya organisasi yang kondusif
Setiap perubahan harus di cipytakan suasana keterbukaan, kejujuran dan secara langsung.
Menurut Porter upaya yang harus ditanamkan dalam menciptakan iklim yang kondusif adalah:
a.       Kebebasan untuk berfungsi secara efektif
b.      Dukungan dari sejawat dan pimpinan
c.       Kejelasan harapan tentang lingkungan kerja
d.      Sumber yang tepat untuk praktek   yang efektif
e.       Iklim orgaisasi yang terbuka
3.      Sistem komunikasi yang jelas, singkat dan berkesinambungan
Komunikasi merupakan unsure yang penting dalam perubahan. Setiap orang perlu dijelaska tentang perubahan untuk menghindari “Rumor/informasi” yang salah.
4       Keterlibatan orang yag cepat
         Perubahan perlu disusun oleh orang-orang yang kompeten

E.      Kunci Sukses Strategi Perubahan yang Baik
         1. Mulai dari diri sendiri
         2. Mulai dari Hal-hal kecil
3. Mulailah sekarang, jangan menunggu-nunggu
BAB III
MOTIVASI DALAM MANAJEMEN

Penampilan kerja adalah akibat interaksi antar dua variabel:
1.kemampuan melakukuan tugas
2.motivasi

A.PENGERTIAN
                Stoner dan Freeman, motivasi => kareteristik psikologis manusia yang memberi kontribusi yang meningkat komitmen seseoarng (termaksuk faktor-faktor yang menyebab kan,menyalurkan dan mempertahankan tingkah lakuh dalam arah tekad tertentu)
            Nglim purwanto => segalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
            Sbortell dan Kaluzny => persaan atau pikiran atau pikiran yang mendorong sesuatu melakukan pekerjaan atau menjalankan kekuasaan terutama dalam berperilaku.
Stanford => ada 3 point penting dalam pengertian motivasi yaitu hubungan antara kebutuhan,dorongan dan tujuan.
  • Kebutuhan ; muncul karena adanya sesuatu yang kurang dirasakan oleh seseorang baik fisiologis psikologis
  • Dorongan ; merupakan arah untuk memenuhi kebutuhan
  • Tujjuan ; akhir dari satu siklus motivasi
Menurut bentuknya motivasi terdiri dari ;
1.      motivasi Intrinsik => datangnya dari dalam diri individu
2.      motivai ekstrinsik => datangnya dari luar individu
3.      motivasi terdesak => muncul dalam kondisi terjepit dan munculnya serentak menghentakm dan cepat sekali.


B.Teori-teori motivasi
1.      teori kebutuhan
a.       memfokuskan pada yang dibutuhkan orang untuk hidup berkecukupan
b.      seseorang mempunyai motivasi kalau iabelum mencapai tingkat kepuasan tertentu dengan kehidupannya.
c.       Yang termasuk dalam teori kebutuhan adalah:
1)      teori hirarki kebutuhan menurut maslow, dan
2)      teori ERG
2. teori keadilan
Individu akan termotivasi kalau mereka mengalami / meerima kepuasan dari upaya dan usha mereka
3. teori harapan
Teori harapan berfikir atas:  
a.       harapan hasil prestasi
b.      valensi
c.       harapan prestasi usaha
4. teori penguatan
Rangsangan => respon => konsekuensi => respon masa depan
                                 
C. Kepuasan dan ketidakpuasan dalam bekerja
            Harzberg => kepuasan dan ketidakpuasan dalam bekerja muncul dari dua faktor yang terpisah.
Faktor-faktor penyebab ketidakpuasan antaralain:
1.      gaji
2.      kondisi kerja
3.      kebijakan perusahaan dan administrasi
4.      supervisi
5.      hubungan dengan supervisor
6.      hubungan dengan teman sejawat
7.      status
8.      keamanan
Faktor-faktor penyebab kepasan:
  1. berprestasi
  2. pengakuan
  3. bekerja sendiri
  4. tanggung jawab
  5. kemajuan dalam pekerjaan
  6. pertumbuhan
  Rowland => 12 kunci utama dalam kepuasan kerja:
  1. Input
  2. Hubungan manajer dan staf
  3. Disiplin kerja
  4. Lingkungan tempat kerja
  5. Istirahat dan makan cukup
  6. Dikriminasi
  7. Kepuasan kerja
  8. Penghargaan penampilan
  9. Klarifikasi kebijakan, prosedur dan keuntungan
  10. Mendapatkan kesempatan
  11. Pengambilan keputusan
  12. Gaya manajer.
BAB IV
KOMUNIKASI DALAM MANAJEMEN

A. DEFINISI KOMUNIKASI
a.       Suatu pertukaran pikiran, perasaan, pendapat dan memberikan nasehat dimana terjadi antara dua orang atau lebih yang saling bekerja sama (Tappen, 1995).
b.      suatu seni untuk dapat menyusun dan menghantarkan pesan dengan cara yang mudah sehingga orang lain dapat mengerti dan menerima.

B. PROSES KOMUNIKASI
            Setiap komunikasi harus ada pengiriman pesan, pesan dan penerima pesan. Proses ini melibatkan lingkungan internal dan eksternal. Lingkungan internal (nilai-nilai, kepercayaan, temperamen dan tingkat stress), lingkungan eksternal (cuaca, suhu, factor kekuasaan dan waktu
            Factor Internal
                                                            Komunikator
            Faktor Eksternal          

            Tertulis
Verbal                                      Pesan
            Non Verbal

Factor Internal
                                                Pesan
Factor Eksternal




A. PRINSIP KOMUNIKASI MANAJER KEPERAWATAN
  1. Manajer harus mengerti druktur organisasi, termasuk pemahaman tenteng siapa yang akan terkena dampak dari pengambilan keputusan yang telah dibuat.
  2. Komunikasi harus jelas, sederhana dan tepat. Nursalam (2001) mengemukakan prinsip komunikasi seorang perawat professional adalah CARE : complete, acurate, rapid, English.
  3. Manajer harus meminta umpan balik apakah komunkasi dapat diterima secara akurat, salah satu caranya → bertanya / mengulangi pesan yang telah disampaikan.
  4. Menjadi pendengar yang baik, menerima semua informasi yang disampaikan orang lain dan menunjukkan rasa menghargai dan ingin tahu terhadap pesan yang disampaikan.
D. MODEL KOMUNIKASI
  1. Komunikasi Tertulis
Komunikasi tertulis digunakan untuk mencapai kebutuhan ssetiap individu/staf, mengkomunikasikan pelaksanaan pengelolaan.
Menurut Asosiasi Pendidikan Kesehaatan Amerika (1988) komunikasi tertulis dalam suatu organisasi meliputi :
    1. mengetahui apa yang ingin disampaikan sebelum menulis
    2. gunakan kata aktif
    3. tulis kata yang sederhana, familier, spasifik dan nyata
    4. atur isi tulisan secara sistematis
    5. jelas
  1. Komunikasi secara langsung/verbal
a.       manajer selalu mengadakan komunikasi verbal kepada atasan dan bawahan baik secara formal maupun informal.
b.      Tujuan → assertiveness.
c.       Hal yang harus dihindari → pasif, agresif
  1. Komunikasi Non Verbal
    1. komunkasi dengan menggunakan ekspresi wajah, pergerakan tubuh dan sikap tubuh (body language).
    2. Komunikasi non verbal meliputi komponen emosi terhadap pesan yang diterima atau disampaikan, tetapi menjadi sesuatu yang membahayakan jika komunkasi non verbal diartikan salah tanpa adanya penjelasan secara verbal.
    3. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1). Lingkungan → tempat komuniksai dilaksanakan
2). Penampilan → sesuatu yang menarik ( pakaian, kosmetik).
3). Kontak mata → memberi makna kesediaan seseorang berkomunikasi
4). Postur tubuh (Gesture)
5). Ekspresi wajah → komunikasi yang efektif memerlukan respon wajah yang setuju terhadap pesan yang disampaikan.
4. Komunikasi Via Telepon
a. Memungkinkan manajer dapat merespon perkembangan dan masalh dalam organisasi.
b. Manajer dan semua staf harus belajar etika bertelepon, serta menghargai setiap menjawab telepon.
E. APLIKASI KOMUNIKASI DALAM ASUHAN KEPERAWATAN
  1. Saat Timbang Terima (Operan)
a.       diperlukan komunikasi yang jelas tentang kebutuhan klien, intervensi apa yang Subject:dah dilakukuan dan Yours truly,ang belum, serta respon pasien.
b.      Perawat melakukan timbang terima dengan berjalan bersama dengan perawat yang lainnya dan menyampaikan kondisi pasien secara akurat di dekat pasien.


2.      Interview/Anamnesa
    1. Suatu komunikasi dengan tujuan tertentu untuk memperoleh data tentang keadaan pasien dan melaksanakan tindakan yang akurat.
    2. Merupakan kegiatan yang selalu dilakukan oleh perawat kepada pasien saat pelaksaan asuhan keperawatan.
Prinsip yang perlu diterapkan perawat :
1). Hindari komunikasi yang terlalu formal atau tidak tepat.
2). Hindari interupsi / gangguan yang timbul akibat lingkungan yang gaduh.
3). Hindari responn dengan kata hanya “ya”dan “tidak” ; mengakibatkan komunikasi tidak berjalan dengan baik.
4). Jangan memonopoli pembicaraan.
5). Hindari hambatan personal.
  1. Komunikasi melalui Komputer
    1. Computer merupakan alat komunikasi cepat dan akkurat dalam manajemen keperawatan saat ini.
    2. Penulisan data-data pasien dalam computer akan mempermudah perawat lain mengidentifikasi masalah pasien dan memberi intervensi yang tepat.
    3. Melalui computer, informasi-informasi terbaru cepat didapatkan menggunakan internet bila perawat mengalami kesulitan dalam menangani masalah pasien.
  1. Komunikasi melalui Komputer
Di satu sisi perawat membutuhkan informasi dengan menghubungkan apa yang dikatakan pasien dengan orang lain, di lain pihak perawat harus memegang janji untuk tidak menyampaikan rahasia pasien kepada orang lain.



  1. Komunikasi melalui Sentuhan
    1. Merupakan metode dalam mendekatkan hubungan antara pasien dan perawat.
    2. Sentuhan yang diberikan dapat sebagai terapi/tindakan mandiri perawat mengatasi masalah pasien.
  2. Dokumentasi sebagai Alat Komunikasi
Dokumentasi adalah alat yang digunakan dalam komunikasi keperawatan untuk memvalidasi asuhan keperawatn, sarana komunikasi antar tim kesehatan lain dan dokumen paten dalam pemberian asuhan keperawatan.
Manfaat komunikasi dalam pendokumentasian adalah :
1). Dapat digunakan ulang untuk keperluan yang bermanfaat
2). Mengkomunikasikan kepada perawat dan tenaga kesehatan lain tentang apa yang sudah dan yang akan dilakukan kepada pasien.

BAB V
STRATEGI PEMBINAAN STAF

          Dalam hiruk-pikuknya pelaksanaan pembangunan dewasa dini terlihat adanya tuntutan pelaksanaan tugas dalam keterlibatan aktif semua pihak . melalui pemberdayaan staf optimal ,diharapkan penyelesaian tugas dapat berjalan secara cepat ,tepat,dan tuntas serta berkualitas (PATTAS), Selain itu pemberdayaan staf diharapkan dapat menunjang manajemen ,yakni efektivitas ,efesiensi ,efektivitas ,rasionalitas ,dan produktivitas dapat dicapai.
            Rumah sakit saat ini tengah menghadapi permasalahan sebagai akibat dan terjadinya perubahan,antara lain kompleksitas dari tujuan ,visi dan misi rumah sakit ,beratnya tugas pokok yang harus diselengarakan ,beragamnya fungsi organisasi rumah sakit yang semakin besar dan melibatkan personel yang semakin banyak ,terbatasnya dana yang disediakan serta semakin perlunya penekanan pada aspek efisiensi .
            Berangkat dan pemikiran itu maka staf sebagai pembantu pimpinan rumah sakit baik dalam kedudukannya selaku pimpinan unit lini yang lebih rendah (kepala bidang keperawatan ,kepala seksi ,kepala bangsal dan lain sebagainya) maupun staf pembantu yang memainkan peran selaku pemberi nasihat dan masukan ,serta staf pembantu yang bertanggung jawab atas terlaksanannya kegiatan penunjang dalam konteks pelayanan kesehatan dirumah sakit ,dapat dibina dan ditingkatkan pengetahuan dan keterampilan ,sikap dan mental serta penampilan secara berencana ,terprogram ,dan berkesinambungan dari waktu-kewaktu.
            Manusia sebagai mahluk social dengan segala kelemahannya,tidak akan pernah terlepas dari bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
Tingkat dan jenis kebutuhan .disisi lain ,perhatian terhadap sikap dasar dari manusia akan membantu dalam menyiasati dan mengantisipasi sebagaimana seseorang diperlakukan dalam konteks pembinaan kinerjanya.
            Douglas Mc Gregor dalam teorinya (x dan y) menyatakan bahwa pada hakekatnya terdapat 2 sikap dasar manusia,yaitu sikap dasar yang dilandasi teori X dan sikap dasar yang dilandasi teori Y sikap dasar manusia yang  dilandasi teori X diasumsikan bahwa pada prinsipnya kebanyakan manusia tidak suka menerima tanggung jawab ,malas dan s elalu ingin aman saja .
          Disamping itu kebanyakaan mereka mempunyai tujuan sebagaimana telah ditetapkan sendiri dengan upaya yang diarahkan oleh diriya sendiri. Pimpinan yang mendasarkan tindakan pada teori Y akan lebih terbuka ,dan mendorong bawahnnya atau staf nya untuk berprakarsa ,berinsiantif ,dan tumbuh secara aktif.
A.     Manajemen bangsal sebagai unjung tombak dalam peningkatan kinerja
Bangsa atau ruangan pasien adalah bagian penting yang tidak terpisahkan dari suatu tatanan rumah sakit .dapat dikatakan bangsal sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan rumah sakit dan ikut menentukan baik-buruknya rumah sakit atau mutu pelayanan yang diberikan kepada konsumen dirumah sakit .
Dibangsal ini bergabung perawat pelakasanaan asuhan keperawatan yang monopoli waktu pasien secara terus menerus selama 24 jam ,bahkan tengah malam pun perawat dengan dedikasinya yang tinggi dengan setia mendampingi pasiennya dan melayani ,memenuhi kebutuhannya ,serta memecahkan permasalahnya yang dihadapi pasiennya ,sungguh mulia tugas perawat .
Berbicara tentang kepengurusan atau manajemen staf, berarti mencakup sejak dan memilih calon tenanga yang qualified sampai dengan pembinaan dan pengembangaanya .dalam memilih calon yang berkualitas ,dibutuhkan tenanga sesuai dengan kualifikasi yang diperlukan untuk setiap posisi dalam unit kerja ,selanjutnya memberi kesempatan kepada staf baru, berorientasi, melatihnya dalam melaksanakan tugas-tugas melalui instruksi, dan membelajarkannya melalui pekerjaan langsung kepasien.
Dalam rangka meningkatkan kinerja staf perawatan ,chintya Chew dalam tulisannya berjudul Be A better Boss yang dimuat dalam the Straits Tunes ,11 juli 1988 menyatakan bahwa ada sebelas hal yang harus dilakukan oleh pimpinan terhadapan bawahan atau staf untuk dapat meningkatkan kinerjanya ,yaitu
1.      Pemberian instruksi yang jelas .
2.      Belajar untuk menjadi pendengar yang baik .
3.      Menghargai staf yang berprestasi
4.      Mengetahui kapan dan dimana memberi kritik .
5.      Memberi perhatian terhadap pengembangan karier bawahan.
6.      Pemberian Tantangan
7.      Selalu melakukan komunikasi dengan bawahan.
8.      Menghargai   bawahan dan mereka adalah orang yang dibutuhkan .
9.      Tetaplah konsisten
10 Berlakulah adil
11.Tahu bagaimana berkata tidak
Dan uraian diatas maka dibutuhkan jiwa kepimpinan (leadership) bagi setiap perawat . jadi motivasi perawat adalah memiliki kerja keras berkualitas . selain ,itu seorang perawat harus memiliki budaya kerja (etos kerja) yang menyangkut professional ,proposional ,procedural ,proaktif ,produktif dan progresif .
B.Peningkatan dan Pengembangan staf 
Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa rumah sakit dengan berbagai program dan kegiatannya yang dilakukan untuk menghadapi dalam menjawab berbagai program dan kegiatannya yang dilakukan untuk menghadapi dan menjawab berbagai tantangan zaman ,tidak dapat ditawar –tawar lagi,harus dipersiapkan system pengembangan sumber daya manusia yang berdayaguna dan berhasil guna .
Ada beberapa bentuk pengembangan staf yang dapat dilakukan ,antara lain :
  1. In service education .
  2. Orientasi .
  3. Job training
  4. Continuing
  5. Pelatihan kepemimpinan.
  6. Pengembangan karier
  7. Studi banding
  8. Penilian kerja
  9. Magang di rumah sakit yang lebih maju
  10. Kelompok kerja keperawatan
  11. Pengembangan kerja tim diruangan 
BAB VI
PENILAIAN KINERJA PERAWAT
                      
Penilaian dan pegembagan terhadap karyawan adalah salah satu kegiatan yang harus di lakukan oleh kepala bangsal untuk mendukung kinerja perawat /perawat dan pada akhirnya diharapkan akan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan ,evaluasi di gunakan untuk megetahui perkembagan pelayanan keperawatan yang di lakukan.
Keberhasilan dan pelayanan keperawatan sangat ditentukan oleh kinerja para perawat oleh karena itu evaluasi oleh kinerja perawat perlu dan harus selalu dilaksanakan melalui suatu system yang tersandar sehingga hasil dan evaluasi lebih objektif.
Kepala bangsal keperawatan mempunyai tanggung jawab menggerakkan perawat pelaksana .oleh karena itu kepala bangsal keperawatan juga memiliki tugas un tuk melakukan evaluasi terhadap kinerja perawat yang bekerja di bangsal tersebut .pada bab ini diuraikan berbagai metode penilaian /evaluasi yang dapat diterapkan dalam keperawatan ,mencakup evaluasi keperawatan dan evaluasi kinerja perawat.
A.     Evaluasi Asuhan Keperawatan
Keperawatan bertujuan agar pasien memperoleh pelayanan yang lebih efektif dan lebih efisien dalam memenuhi kebutuhannya sehingga pasien memperoleh kepuasan dan status kesehatan meningkat. Efektif dan efisien dalam asuhan keperawatan telah disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan,kemampuan pasien, dan kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan.
Instrumen audit keperawatan bertujuan untuk mengevaluasi keefektifan asuhan keperawatan serta menetapkan kelengkapan Asuhan dan keakuratan pencatatan asuhan keperawatan. Disamping itu ,audit keperawatan juga mencakup kegiatan pencatatan dan pelaporan ,penerapan dan pelaksanaan prosedur /teknik keperawatan, peningkatan kesehatan fisik dan emosi melalui pendidikan kesehatan.
Dalam hal itu juga memerhatikan empat hal yang bertujuan untuk menilai keberhasilan asuhan keperawatan ,pertama ,pemenuhan kebutuhan pasien ,meliputi kebutuhan oksigen ,cairan, makanan eliminasi, istirahat /aktivitas/tidur intetuksi social,perlindugan dan bahaya, kehidupan normaldan kebutuhan terhindar dan peyimpagan kesehatan.
Langkah –langkah dalam audit keperawatan dimulai dengan penentuan aspek-aspek yang dinilai dan pendekatan yang akan digunakan ,lalu megidentifikasi kekurangan dan menentukan langkah perbaikan,menentukan standar ,menetapkan criteria hasil yang di harapkan.
Untuk memperoleh hasil yang optiomal melaksanakn audit keperawatan , sebaiknya kegiatan ini dikerjakan secara rutin/periodic.
B. Evaluasi Kinerja Perawat
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan evaluasi kinerja perawat untuk memperoleh hasil evaluasi kinerja perawat untuk memperoleh hasil evaluasi secara optiomal ,antara lain aspek-aspek yang akan dinilai ,pelaksana penilaian ,masalah yang dihadapi dalam penilaian .metode-metode dalam penilaian dan management by objective (mob). 
1. Aspek yang Dinilai
Evaluasi terhadap kinerja perawat dapat  dilakukan dengan memenilai bberbagai hal yang berkaitan dengan pekerjaan perawat ,yaitu kualitas pekerjaan yang diselesaikan, kuantitas pekerjaan ,tanggung jawab dalam melaksanakan kuantitas pekerjaan ,dan inisiatif serta ketepatan dalam bekerja. Faktor  lain yang dapat dinilai adalah kecepatan dalam bekerja,tingkat kemandirian ,perilaku selama bekerja,kehadiran/ pemanfaatan waktu.
Di samaping itu evaluasi kinerja perawat juga dapat dilakukan dengan menilai berbagai aspek yang disesuaikan dengan tingkat atau jabatan perawat, aspek tersebut ,antara lain prestasi kerja ,tanggung jawab, ketaatan, kejujuran , kerjasama, prakarsa dan kepemimpinan. Pegumpulan data atau informasi yang selanjutnya digunakan sebagai bahan penilaian kinerja terhadap perawat ,dapat di peroleh melalui kuisioner ( daftar pertanyaan) wawancara, observasi ( peninjauan langsung ) ,atau kombinasi ketigannya .

2. pelaksana penilaian 
            Pelaksanaan penilaian pada umumnya disesuaikan dengan kebutuhan penilaian .evaluasi penilaian.untuk mencapai hasil penilaian yang objektif ,evaluasi kinerja terhadap perawat dapat dilakukan oleh berbagai unsure, yaitu penyelia atu atau atasan langsung , perawat sendiri ,perawat lain ,komsultan penelitian kerja ,dan dpat juga dilakukan oleh pasien atau keluarga pasien.
3. masalah dalam penilaian
            Sering  dalam melakukan penilaian kinerja, perawat dihadapkan pada berbagai masalah, permasalahan yang dapat dijumpai dalam melaksanakan evaluasi kinerja terhadap perawat adalah terdapatnya kelonggaran atau kekerasan, kecendrugan ke pusat dan halo error/halo effect.
4. metode penilaian
            Metode yang dapt digunakan dalam melakukan penilaian terhadap kinerja perawat ,antara lain penilaian beririentasi masa lain yang dapat dibuat dengan menggunakan rating scale, check list, critical incident menthod, field review menthod performance test and observations, dan dengan berdasarkan metode penilaian kelompok.
5. management by objectives                      
Adalah bahwa setiap tingkat organisme masing- masing pejabat /pimpinan hendaknya menetapkan suatu tujuan yang konkret sedimikian rupa sehimgga tujuan tersebut mampu menunjang tercapainya tujuan organisasi secara keseluruhan .
Mbo merupakan alat untuk meningkatkan kinerja bagi perawat /perawat , yaitu melalui penilaian terhadap presentasi kera( performance appraisal).
Kelebihan management by objectif adalah perawat mengetahui apa yang diharapkan, tujuan yang di susun realities, koordinasi kegiatan menjadi lebih baik, dan pimpinan mampu membina kerjasama antar perawat. mespkipun demikian manegent tak pernah terlepas dan kekurangan, antara lain waktu yang relative lebih lama, dan manejer / pimpinan kurang suka atau segan melakukan pekerjaan administrasi.beberapa hal yang menjadikan management by objective efekrif dari pimpinan tertinggi, menyusun tujuan masing-masing sesuai tingkatannya adanya partisipasi bawahan dalam menyusun tujuan, adanya otonomi dalam pelaksanaan, dan perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap tujuan yang dicapai.
C. evaluasi Penampilan Kinerja Perawat di indonesia
Pelaksanaan penilaian kinerja perawat di Indonesia, khususnya bagi perawat pegawai negeri sipil meliputi hal-hal berikut :
1  penilaian umum ,yang berlaku bagi sertiap pegawai negeri sipil , mencakup penilaian atas kesetiaan, prestasi  kerja, tanggung jawab , ketaatan, kejujuran, kerjasama, prakarsa , dan kepemim[pinan. Yang dilaksanankan setiap akhir tahun.
  1. penilaian jabatan fungsional perawat berdasarkan keputusan menteri menteri Negara perdayagunaan aparatur Negara No.94/ kep/ Men .pan ./ 11 / 2001 tanggal 7 november 2001 tentang jabatan fungsional perawat dan angka kreditnya.  Penilaian ini dilaksanakan setiap 6 bulan sekali .penilaian angka kredit lebih dtekankan , untuk memenuhi persyarat kenaikan pangkat / jabatan .penilaian jabatan fungsional meliputi penilaian pendidikan, pelayanan keperawatan pegabdian masyarakat , pegembagan profesi , dan kegiatan mendukung pelaksanaan tugas pelayanan keperawatan .oleh karena itu , organisasi profesi ( ppni) harus berperan aktif untuk terus mengupayakan system evaluasi yang tepat untuk menilai kinerja perawat .
D. Simpulan
            Evaluasi  pelaksanaan asuhan keperawatan bisa dilaksanakan menggunakan metode audit keperawatan . metode ini perlu diterapkan dan di kembangkan di masing-masing unit pelayanan keperawatan disesuaikan dengan misi dan visinya penilaian terhadapkinerja perawat harus memperhatikan aspek- aspek yang dinilai agar adanya kejelasan apakah menilai perawat, dan metode yang pergunakan . 
BABVII
SUPERVISI DALAM KEPERAWATAN

Beberapa orang mempersepsikan bahwa supervise dilakukan manakala di salah satu bagian (bangsal) tertentu telah terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Sebagian yang lain menganggap kegiata supervise hanya akan menimbulkan kegelisahan pada “anak buah” karena pada akhirnya adalah “proses” menyalahkan oleh pemimpin terhadap anak buahnya tanpa adanya solusi.
Padahal sebenarnya supervisi merupakan bagian dan fungsi pengarahan (directing) dalam fungsi manajemen, sebagai satu cara efektif untuk mencapai tujuan pelayanan di suatu tatanan rumah sakit termasuk tatanan pelayanan keperawatan. Supervise juga merupakan suatu media untuk mempertahankan agar segala kegiatan yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dengan lancar.
Supervise keperawatan merupakan suatu proses pemberian sumber-sumber yang dibutuhkan perawat untuk menyelesaikan tugas dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan supervise memungkinkan seorang manajer keperawatan dapat menemukan berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan asuhan keperawatan di ruang yang bersangkutan melalui analisis secara komprehensif bersama-sama dengan anggota perawat secara efektif dan efisien. Denngan supervise pula seorang manajer keperawatan akan mampu menghargai potensi setiap anggotanya terasuk pasien dan mampu menerima perbedaan serta kekurangan serta memanfaatkannya. Jadi, melalui kegiatan supervise seharusnya kualitas atau mutu pelayanan keperawatan menjadi focus dan tujuan utama.
  1. Pengertian Supervisi
·        Supervise sebagai suatu pengamatan secara langsung terhadap pelaksanaan yang bersifat rutin (Admuro, 1998 dalam Cahyati, 2000).
·        Dimensi supervise sebagai suatu proses kemudahan sumber-sumber yang diperlukan untuk penyelesaian tugas (Swansburg, 1990).
·        Supervise sebagai kegiatan yang merencanakan, mengarahkan, membimbing, mengajar, engobservasi, mendorong, mempebaiki, mempercayai, dan mengevaluasi secara berkesinambungan anggota secara menyeluruh sesuai kemampuan dan keterbatasan anggota (Knon dan Gray, 1987).
·        McFarland, Leonard dan Moris (1984), mengaitkan supervise keperawatan sebagai suatu proses kegiatan pemberian dukungan sumber-sumber  (resources) yang dibutuhan perawat dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
·        Secara khusus supervise dikaitkan dengan suatu disiplin ilmu tertentu dalam hal ini keperawatan.
Kesimpulan : supervise merupakan suatu kegiatan yang mengandung dua dimensi pelaku, yaitu pemimpin dan annggota. Jadi, dalam supervise semua orang terlibat bukan sebagai pelaksana pasif, namun secara bersama sebagai mitra kerja yang memliki ide-ide, pendapat, dan pengalaman yang perlu didengar.



  1. Prinsip Supervisi Keperawatan
·        Didasarkan atas hubungan professional dan bukan hubungan pribadi
·        Kegiatan harus direncanakan dengan matanng
·        Memberikan perasaan aman pada perawat pelaksana
·        Harus mampu membentuk suasana kerja yang demokratis
·        Harus dilakukan secara objektif dan mampu memacu terjadinya penilaian diri (self evaluation)
·        Bersifat progresif, inovativ, fleksibel, dapat mengembangkan potensi masing-masing orang yang terlibat
·        Bersifat konstruktif dan kreatif dalam pengembangan diri disesuaikan dengan kebutuhan
·        Harus dapat meningkatan kinerja bawahan dalam upaya meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.
  1. Kompetensi yang Dimiliki Supervisi
1.      Kemampuan memberikan pengarahan dan petunjuk dengan jelas sehingga dapat dimengerti oleh staf.
2.      Supervisor harus mampu memberikan saran, nasihat dan bantuan yang benar-benar dibutuhkan oleh staf dan pelaksana keperawatan
3.      Kemampuan dalam memberikan motivasi untuk meningkatkan semangat kerja staf dan pelaksana keperawatan.
4.      Kemampuan memberikan latihan dan bimbingan yang diperlikan oleh staf dan pelaksana keperawatan.
5.      Kemampuan dalam melakukan penilaian secara objektif dan benar terhadap kinerja keperawatan.
  1. Teknik Supervisi
Cara melakukan supervise dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.
Supervise langsung dilakukan pada kegiatan yang sedang berlangsung. Pada supervise kotemporer, seorang supervisor dapat terlibat kegiatan secara langsung agar proses pengarahan dan pemberian petunjuk tidak dirasakan sebagai perintah.
            Supervise dapat juga dilakukan secara tidak langsung. Biasanya dilakukan melalui laporan baik tertlis maupun lisan. Cara tidak langsunng ini memungkinkan terjadinya salah pengertian (misunderstanding) dan salah persepsi (misperception) karena supervisor tidak melihat secara langsung kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
  1. Kesimpulan
Supervisi merupakan suatu proses yang tidak dapat dilakukan tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu. Supervise dilakukan untuk mencapai tujuan keperawatan dan menciptakan kepuasan bagi seluruh pihak yang terlibat (anajer keperawatan, staf dan pelaksana keperawatan, pasien dan keluarga).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar